aprizye

Jangan Kebanyakan Tapi

Posted on: August 16, 2011

alasan

alasan

“Gaa..Gaga..!!..ihhh ni orang dipanggilin ga nyahut-nyahut” teriak Mathea lari-lari mengejar Jingga.

“Ga…Jingga..!!” teriaknya makin keras.

Waktu itu hari Kamis jam 12.30 siang, anak-anak SMA Bina Mandiri pada pulang sekolah.

“Ga…Jingga..!!” Mathea berusaha keras mengejar Jingga.

“Ada apa Thea ?” Jingga menjawab panggilan Thea. Thea itu nama panggilan buat Mathea, sedangkan Jingga biasa dipanggil Gaga.

“Kamu mau kemana ?” Thea nanya masih engos-engosan.

“Pulang” ucap Gaga.

“Terus ?”

“Jaga toko Ko Iwan, emang mau ngapain lagi?, kaya nggak tau aja, emang kenapa sih, sampai keringetan ngejar-ngejar!!”

“Duuuhhh…bukannya abis sekolah itu kita kudu ngumpul sama kakak-kakak kelas kita??”

“Haa…ngumpul apa? Aku nggak tau” Gaga bingung.

“Iiiiii…cepet deh kita ke Lab Bahasa, kalo nggak kita bisa celaka?!!” Thea menarik tangan Gaga keras-keras dan mengajaknya ke Lab Bahasa.

 

DI LAB BAHASA

“Pokoknya ibu tidak mau tahu! Keputusan ini sudah ibu ambil dan sudah ibu atur berdasarkan hasil rapat kecil ibu dengan guru-guru lain!!” ucap Bu Neneng seraya menjelaskan sesuatu kepada beberapa siswa kelas II dan III yang berada dalam ruangan tersebut. Sementara Gaga dan Thea terlambat datang, mereka hanya bisa nguping dibalik daun pintu.

“Tapi Bu..” ucap salah seorang diantara mereka.

“Pokoknya mau nggak mau kalian harus terima.sudah!. ibu banyak urusan dan mau pergi. Ibu serahkan rapat ini pada kalian. Ridan!, tolong pimpin sama kamu!”

“Ya, baik Bu” jawab Ridan.

     Pintu ruangan terbuka, serentak Gaga dan Thea kaget bukan kepalang, hawa panas Bu Neneng kian terasa.

“Mau apa kalian nguping? Masuk sana!”

“Ba..ba…baik Bu” jawab Gaga dan Thea gemetar.

     Kemudian mereka masuk dan duduk di bagian belakang. Mata-mata senior terlihat nyolot, seperti bakso yang baru keluar dari cetakannya. Intinya: mereka marah besar!!! Sama anak yang dua ini.

“Dari mana saja kalian? Kenapa telat?” Tanya Ridan Si Senior kelas III yang botak lagi sangar.

“Saya tidak tahu ada acara seperti ini Kak, maaf” jawab Gaga ketakutan.

“Maaf!!, maaf!!, kamu nggak lihat apa, ditulis segitu gedenya di papan pengumuman, kalo anak-anak  yang namanya tertera di papan pengumuman itu harus kumpul di Lab Bahasa tepat jam setengah satu!”

“Maaf Kak, saya memang tidak tahu” jawab Gaga lagi.

“Udah deh! Keburu waktu abis tahu ngurusin selebriti-selebriti ini, pengennya kan di kejar-kejar aja, Carmuk gitu!!” ucap Rima, siswa SMA Bina Mandiri yang dianggap paling angker di kalangan junior.

“Langsung aja Rid, kasih mereka kerjaan, bukannya kita udah capek dimarahin bu Neneng tadi?”

“Oke Rim, nyantai aja loe…” Ridan menyetujui.

     Keadaan menjadi hening sejenak, Ridan dan Rima kembali pada posisi mereka semula, begitu pun Gaga dan Thea yang duduk bersampingan. Ridan, Si Pemimpin Botak mulai memberikan penjelasan.

“Mohon perhatian semua !, Bu Neneng udah ngasih keputusan buat anggota pengurus Majalah Sekolah Bina  Mandiri. Dan ini hasilnya….” Ridan mengeluarkan dokumen dari dalam amplop cokelat.

“Oke! Gue bacain ya: susunan kepengurusan Majalah Sekolah SMA Bina Mandiri, ketua…gue..Ridan, wakil Rima, bendahara Ayu, Sekertaris Melisha, Dokumentasi Rahmaia, Wartawan keolahragaan Mathea, Wartawan bidang keagamaan Jingga……”, begitu Ridan membacakan susunan kepanitiaan hingga selesai yang diikuti riuh siswa-siswa yang hadir. Ya, ada yang setuju, ada yang ngedumel, ada juga yang sorak-sorak!. Termasuk Gaga, dia tidak setuju akan hasil keputusan ini. Dia berpendapat bahwa keputusan ini hanya berdasarkan sepihak saja, yaitu para guru. Malah ada kesan pilih kasih. Bukan berdasarkan kemampuan objektif para siswa. Keadaan ini juga kontan membuat keadaan Gaga pada posisi yang tidak aman. Gimana ngga? Gaga itu orangnya cenderung pendiem, tapi rada ngeleyed! jangankan di sekolah, di rumah juga sama saja. Karena sifat dasarnya yang pemalu untuk hal hal tertentu, dia jadi sukar bersosialisasi. Bukannya pilih-pilih, Gaga memang berteman hanya dengan orang yang dianggapnya klop sama dia saja. Yaa… kayak Mathea lah. Tapi sekarang, dia harus nerima jabatan sebagai WARTAWAN???!!! Bidang keagamaan lagi…

“Interupsi Kak..?!”, sela Gaga.

“Kenapa?”, Tanya Ridan.

“Saya kurang setuju sama hasil keputusan ini yang….”, belum selesai Gaga berargumen, Rima kembali menyela..!

“Udah deh tuan puteri, loe terima aja, emangnya loe sanggup gitu jadi ketua, ha?” Rima nyolot.

“Bukan, bukan gitu Kak, Tapi….”

“Ya udah! Kalo loe nggak setuju, ngadu aja sama Bu Neneng!”

     Jingga yang memang tak kuasa melawan dan mempertahankan argument terpaksa “Nerimo” saja pada keputusan yang telah diatur itu.

PERJALANAN PULANG

“Thea….gimana dong?”

“Udah…, terima saja..”

“Tapi…,kamu tahu kan, aku tuh pendiam dan nggak berani, masa jadi wartawan!!!??? Yang harus banyak pertanyaan atau aaarrrggghhh!!!” Gaga mengeluh.

“Ga, aku bilangin ya, kalo boleh aku berpendapat, Bu Neneng dan guru-guru juga nggak mungkin asal-asalan milih orang. Lagi pula, aku denger keputusan ini diambil berdasarkan prestasi hasil lomba Bulan Bahasa kemaren, kamu kan juara I lomba Cerpen!”

“Tapi…apa hubungannya cerpen sama wartawan???, jelas jauhhhhh”

“EEE,,,siapa bilang! Apa wartawan nggak perlu nyusun kata-kata, kalimat, atau paragraph?”

“Ya…iya sihh, tapiii….kalau harus keluar, cari-cari sumber aaarggghh…aku nggak bisa!”

“Jangan bilang nggak bisa!! Kamu tuh gimana sich, kali aja Bu Neneng juga pengen supaya kamu bisa berani untuk tampil di muka umum, so bukan jadi pemikir di balik meja saja. Kali aja dia pengen kamu lebih aktif. Bakal banyak dehhh…hal baru yang bakal kamu temuin!”

“Tapi..kenapa Cuma sendiri? Nggak berdua sama kamu gitu?”

“Ga, kamu harus coba hal baru, coba deh sendiri tanpa harus tergantung sama orang lain” Thea menasihati.

“Iya..iya…aku nggak mungkin dimasukkin jadi pengurus olahraga, aku tahu…aku orang lemah!, suka pingsan!, nggak kaya kamu yang kulitnya hitam!”.

“Yey..mbak..kok malah gitu sich, lantas apa hubungannya kulit hitam sama olah raga?” Tanya Thea.

“Ya, aku pikir orang kulit hitam itu orangnya emang lebih kuat, hebat deh, pokoknya kaya kamu ini. Makanya aku bangga sama kamu”. Gaga berkata dengan polosnya.

“Haahhaahhaaa…Gaga..Gaga..kamu tuh ada-ada saja. Tapi kamu nyadar tuh. Kalo kamu ngerasa kayak gitu, orang lemah, kenapa nggak diterima saha jadi wartawan keagamaan”. Thea cekikikan.

“He..hehhh…iya sih”.

      Jingga memang berfikiran pendek dan suka mengada-ngada. Apapun dibikin sulit. Kadang fikirannya itu membuat Thea kebawa jengkel!. Masa dia ngaku bisa juara cerpen gara-gara dipaksa teman sekelasnya. “Bikinnya juga asal-asalan kok..”, itu yang sering dibilangnya. Padahal, tanpa dia tahu, guru-guru pun ikut mengintai perkembangan kemampuannya itu. Sekarang, uring-uringan ngebahas kalau kulit hitam itu lebih kuat dibanding orang berkulit putih. Maklum, dia sendiri yang ngerasa. Kedua orang tuanya turunan etnis Tionghoa, sedangkan Mathea asli turunan Papua. Dia ngerasa orang berkulit putih itu sering sakit-sakitan!. Gaga…Gaga.., pendek banget sich pikiran kamu. Tapi, ada satu nilai plus buat Gaga. Dia orangnya bertanggungjawab dan kerja keras. Tiap pulang sekolah saja dia kerja di toko emas milik Ko Iwan.

“Thea…, tapii…gimana ngomongnya sama orang yang kita wawancarai??”

“Tapi, tapi, tapi lagi!!, udah deh pikirin aja tuh buat PR di rumah. O ya, jangan lupa besok pake baju seragam muslim, soalnya besok hari Jum’at.”

“Tapi..siapa yang mau aku wawancarai ya..? pulang sekolah saja aku harus buru-buru jaga toko!”.

“E, Non, jangan kebanyakan tapi deh, entar malah telat tuh jaga tokonya, kaya kemaren kena semprot Ko Iwan, baru tahu rasa lhooo..hehe hehe…”. Lagi-lagi Thea cekikikan.

     Benar saja, setiba di toko, Gaga yang masih memakai seragam dan penuh keringat kena marah Ko Iwan.

“Kamu olang kemana saja, ha?, owe cape nuggu dali tadi, ini sudah sole, sudah dua hali kamu telat saja masuk kelja?”, Tanya Ko Iwan dengan logat Tionghoa nya.

“Maaf Ko…, tadi saya ada acara dulu di sekolah”.

“Owe kaga mau tau, sekalang kamu olang ganti baju cepet-cepet, make up yang lapi!” Ko Iwan marah-marah. Namun, kadang Gaga tertawa dalam hati, karena bicaranya Ko Iwan itu lucu!!, kalaupun marah. Dia seperti anak kecil yang nggak bisa bilang huruf “R”.

HARI JUM’AT

     SMA Bina Mandiri terletak di dalam komplek perumahan elite dan harus jalan jauh dari jalan raya karena tidak ada angkot yang masuk ke sana, kecuali golongan borju yang pada bawa motor ataupun mobil ke sekolah. Yaa…minimal naek ojek lah. Tapi…,Gaga terbiasa jalan kaki, apalagi cuaca amat cerah. Tak jarang dia selalu jadi bahan kejailan para lelaki yang kerja di bengkel mobil deket sekolahnya. Pernah ada segerombol anak muda yang jail…”Cewe…, ngelirik donggg, kalo nggak ngelirik kamu janda, kalau ngelirik kamu pacar kita”. Keadaan ini udah nggak aneh lagi didenger kuping nya Gaga. Tapi….

“Assalamualaikum….!!!”, suara salam dari balik gardu pos keamanan.

“Wa’alaikumssalam…”, jawab Gaga keanehan.

“Mau sekolah ya..anak Bu Haji.???” Suara serentak itu kembali terdengar.

“Iya”. Jawab Gaga singkat dan langsung jalan cepet-cepet.

“Aneh!”. Pikir Gaga. “Ada-ada aja tuh orang, di bilang anak Bu Haji lah, ini lah, itu lah,…Arrgggrrhh! Kenapa ya? Tapi…,nggak apa-apa sih, amin aja deh kalo ortu ku entar jadi haji, he..heh..kali aja. Apa gara-gara aku pake kerudung kali ya? Sampai mereka begitu sopan dan ngucapin salam, nggak kayak biasanya, suka ngomong yang ANEH-ANEH!!” gumam Gaga sepanjang jalan.

DI SEKOLAH

“Hai..hai…hai…!!! gimana? Udah siap?” Thea bertanya dan berlari dari kejauhan.

“Siap apa?”, kepala Gaga penuh tanda Tanya.

“Ya hunting informasi lahhh…, wawancara..”.

“Belum tau.., aku malu..kalo kamu mau muat berita apa?”

“Aku mau muat berita ekskul basket yang kemaren menang di Balai Kota, inget lhooo…besok dead line hari  Senin.”

“Ya, kamu sich enak! Aku apa dong?”

“Hmmm…wawancara Kak Nisya aja!”.

“Apa??..nggak ah, aku malu!” Gaga menolak. Kak Nisya adalah seorang pengurus ekskul Rohis di SMA Bina Mandiri.

“Malu kenapa?”

“Ya, malu aja..lagi pula aku takut sama orang-orang kaya mereka, ANAK ROHIS!, jangan-jangan pas wawancara aku malah dicekokin hadist sama mereka, ditambah busana mereka yang bikin aku minder…aku malu!. Mereka pada pake baju muslim, bahkan tangannya aja ditutup manset, tapi aku???!!” Gaga ngoceh panjang. Agak tumben juga sich…kesel kali.

“Ya pake siasat dong, kamu juga kan punya, baju ini aja pake lagi, buat wawancara besok!’. Thea menasihati Gaga sambil memegang kerudungnya.

“Jadi aku harus wawancara Kak Nisya nich besok??”

“Nggak!, bukan besok, Tahun depan!” ucap Thea berlalu menuju kelas seraya bel berbunyi

HARI SABTU

“Hai..hai..hai…met pagiii,” kembali Thea mengucap salam kepada Gaga yang baru saja tiba.

“Eh, Non, pusing atau amnesia ya?, kok tumben hari Sabtu pake baju muslim? Biasanya kan cuma Jum’at aja atau pas pelajaran Agama yang cuma dua jam dalam seminggu itu.” Thea terus ngomong dan tak henti-hentinya meledek.

“Udah deh, BATIN tau!, nggak tau apa aku lagi ketakutan!”

“Haa..haaahhhaa…..” . tawa Thea makin jadi-jadian.

“Serius nih, aku takut sama Kak Nisya, jangan-jangan  entar dikasih Hadist beneran, aku kan pake baju muslim ini gara-gara job ku ini. Duhhh…%$^#&#^*” pikiran Gaga sudah nggak jelas.

DI MUSHOLA

“Assalamualaikum…!” Gaga mengucapkan salam selembut dan sesopan mungkin. Hatinya dag dig dug, gemeteran. Kebetulan, Gaga sudah membuat janji terlebih dahulu untuk wawancara tersebut. Walau hanya lewat SMS, karena Gaga nggak berani ngomong langsung.

“Wa’alaikumsalam..???!, eh ukhti Gaga, silahkan duduk disini!”, Kak Nisya menjawab salam dengan teduhnya sambil menutup Al Qur’an Terjemah nya.

“Baik Kak, terima kasih”, jawab Gaga yang masih sungkan dan kaku menghadapi Kak Nisya.

“Oke.., mau wawancara apa nich sama Kakak? Tema nya apa?”, Tanya Kak Nisya.

“Ha..TEMA????” Gaga melongo.

“Iya ukhti, tema nya apa, kita mau membahas apa?”

“Ha!!O iya, ini…, anu, apa ya?”

“Lho kok??”

“Iya Kak, anu,…apa..,maksudnya…, aduhhhh…,begini, saya belum nyiapin sama sekali susunan pertanyaan buat wawancara, apalagi tema,…ketua Majalah Sekolah cuma nyuruh nyari info tentang agama saja, mau apa aja terserah wartawannya. Nah, berhubung saya wartawan untuk rubrik keagamaan, jadi saya mau wawancara Kak Nisya.”

“O…gitu ya?!!, lantas mau ngebahas apa dong?”

“Justru itu Kak, saya nggak tau banyak masalah agama, saya jadi malu.” Sekilas pipi Gaga memerah karena dia merasa malu di hadapan Kak Nisya. Memang benar, dia masih “CETEK!” banget masalah agama. Ditambah orang tuanya yang baru Mualaf setelah keduanya menikah.

“Oh, nggak usah malu, sama kok, Kakak juga masih belajar dan belum tahu banyak, jadi sekarang kita tuker-tuker pengetahuan saja, bahasannya yang mendasar saja,Ok?” Kak Nisya memberi solusi.

“Apa tuh Kak Nisya??”

“Kerudung!” ucap Kak Nisya tegas namun berwibawa.

     Ucapan Kak terasa nyelekitttt banget di dada Gaga. Apa dia sengaja menyinggung? Duuhhhh.. kok kena buangeet sihhh???!!. Dia tau kali ya, Gaga pake kerudung Cuma gara-gara wawancara saja.

“Kak Nisya Cuma cerita dan ngasih tau apa yang udah kakak dapet selama di Rohis ya..”

“Iya Kak.”

“Ukhti Gaga tahu dasar hukum berkerudung?”

“Enggak Kak”, Gaga geleng-geleng kepala.

“Ok, Kakak kasih tahu ya…terdapat di dalam Q.S An Nur ayat 31, tahu bunyinya seperti apa?”

     Adduuuuhhh….duh duh…malu abeeess… Juara I Lomba Cerpen ternyata dangkal banget masalah agama. Lagi dan lagi Gaga menggelengkan kepala. Beneran dehhh…ngobrol sama Kak Nisya nggak jauh dari Hadist dan Al Qur’an. Duh, Gaga tambah malu saat disuruh baca ayat Q.S An Nur ayat 31 itu. Gaga belum bisa benar untuk membaca Al Qur’an, walau endingnya dia mau membaca terbata-bata beserta artinya

“Katakanlah kepada orang-orang perempuan yang beriman, supaya mereka merendahkan pandangannya, dan janganlah memperlihatkan perhiasannya kecuali apa yang biasa lahir dari padanya. Dan hendaklah mereka tutupkan kudungnya ke dadanya.”. begitu Gaga mengakhiri bacaannya.

“Nah, sedikit demi sedikit ukhti sudah tahu kan?”

“O..begitu ya Kak?”, polosnya Gaga keluar lagi.

“Kamu suka baca Al Qur’an nggak?”

“Nggak…”

“Terjemahnya??”

“Apalagi…”

“Duh ukhti Gaga…, membaca Al Qur’an itu wajib buat umat muslim seperti kita, tapi kamu punya Al Qur’an kan?” Tanya Kak Nisya mulai serius.

“Punya Kak…, Tapiii…jarang dibaca, dibuka juga kadang-kadang saja.” Ucap Gaga penuh kejujuran.

“Ya sudah, tapi mulai sekarang mau kan??’

“Insya Allah” jawab Gaga.

     Wawancara bersama Kak Nisya berjalan seperti acara MENTORING saja. Sedikit demi sedikit Gaga pun mulai banyak tahu tentang agama. Bahkan bukan itu saja, kini Gaga menjadi sosok pemberani untuk banyak Tanya. Tiap bertemu Kak Nisya, tumbuh jamur pertanyaan di kepalanya. Kini dia “enjoy tenan”. Hal ini juga tidak jauh dari usaha Kak Nisya yang “crackers” banget soal berdakwah di kalangan sebaya dan adik-adik kelasnya. Beda abis deh.

     Kerjasama yang sering ia lakukan bersama anggota Rohis membuat ia sering terjun langsung untuk meliputi kegiatan mereka. Mulai dari Isro Mi’raj sampai Idul Qurban. Sejak Gaga banyak terlibat  kegiatan Rohis, yang nantinya jadi bahan berita untuk Majalah Sekolah, secara tidak langsung pengetuahuan Gaga bertambah. Dia banyak bertemu huruf “O” dengan jabatannya sebagai Wartawan Keagamaan. Browse Internet dan membaca Qur’an terjemah sudah menjadi lalapannya sehari-hari.

Dia banyak baca ini dan itu. Hingga tiap pengetahuan yang baru dia peroleh dengan membaca spontan membuat mulutnya yang mungil berkata “O…begitu to..”,”O…begini to..”, begitu seterusnya. Sosok Kak Nisya yang dulu ia anggap “Akhwat Dingin” kini selalu mengisi hari-harinya penuh kehangatan. Ngnet bareng, foto bareng sampai hiking bareng. Tak lupa Thea yang selalu ada pada setiap kesempatan. Nah lho, kok bareng-bareng terus??.Bukannya Gaga itu harus kerja di toko emas milik Ko Iwan?. Ternyata sudah seminggu yang lalu Gaga resmi di PHK. Di PHK sih masih sopan, lebih kasarnya lagi di pecat secara tidak hormat!!. Kenapa bisa gitu?

     Awalnya..hati Gaga mulai terkutuk, ehh terketuk maksudnyeh. Dulu dia memakai seragam muslimah supaya “ora isin” alias biar nggak malu ketemu Kak Nisya. Tapi…lambat laun, kegiatannya sebagai wartawan pelipur lara, eh peliput berita keagamaan memberinya hidayah untuk menggunakan kerudung. Walalu asalnya cuman kerudung gaol coy! Tapiii keputusanya sudah bullet sebulet bakso..ingin belajar dan belajar dan meluruskan niat. Tentu aja dengan bantuan Kak Nisya yang selalu memberinya semangat…! Tapiii lain hal lagi sama Ko Iwan. Doi memecat Gaga dengan tidak hormat…mending she..emeng Gaga bukan komandan upacara..haha..haha…. betapa tidak??? Di keramaian pasar…, and banyak banget orang yang ngeliat Gaga yang dimaki abes-abesan!!!oleh majikannya itu,,,tapiii…hehehee Ko Iwan terang aja marahnya kaya anak kecil. Coszz doi nggak bisa bilang huruf “R” itu lho….. Ko Iwan marah tidak lain dan tidak bukan gara-gara Gaga garakonyam alias kagak nyambung!.yuhu…dia biasa dateng ke Toko pake baju yang serba mini, ehh sekarang pake kerudung.gtzz…. dulu Gaga yang berkulit putih, dan tinggi semampai suka jadi model buat majangin perhiasan-perhiasan yang ada di toko itu. Layaknya boneka, Gaga harus menuruti!. Setiap pulang sekolah dia harus berbusana ala orang Eropa, mekico alias Mexico…dan lain-lain…pokoknya eksplore aurat lah… hampir seluruh tubuh Gaga digelantungi emas-emas perhiasan dunia itu. Tapi…bukan mas mas yang orang Jawa itu lho…uhuy!!. Mulai dari telinga, kuping eh lehernya, pergelangan tangannya,, jari-jarinya, sampai kaki-kainyahhh..heeheh emeng kaki Jingga ada berapa yawh…???, wah pokoke semua muanyanyahh.. dehhh. ASTAGFIRULLAH…!!! Miris banget deh ngliat keadaanya waktu dulu. Kalo difikir-fikir, Gaga itu seolah ondel-ondel atau badut millik ko Iwan yang sedang di exploitasi gituh….Huh! apa mesti kaya geto?? Fikir Gaga.???. dulu seh Gaga nurut aje..karena niat membantu orang tua. Tapi,setelah ia tahu, bukan tempe tapi…hehehe…dia lebih memperhatikan eh memperjuangkan haknya sebagai perempuan, apalagi dia masih muda… dia tidak mau menjadi asset Ko Iwan lagi dengan bayaran Cuma 500 rebu perak per bulan. Banyak orang yang mengerumuni Gaga dan Ko Iwan yang Cadel tea.., mereka perang mulut…tapi walau cadel ko iwan emeng kaya yang menang gitu, coz…biar nggak bisa bilang huruf “R” tapi perkataannya itu cukup bikin “kelepek-kelepek” dweh..klo nggak punya nyali…itu juga. Akhirnya kerudung Gaga dijambak!ditarik! tapi untuk nggak sampe diiket atau dijual lagi!!!heheh…wajar she…ko Iwan punya banyak uang soalnya… cos orang kaya gitu.., tapi Gaga tetep “keukeuh” pada pendiriannya, so si Kokok itu (Ko Iwan maksudnya) bener-bener tersulut! Dan langsung memecatnya….”Allah pasti memberikan rizki dari mana saja”. Tapi kayaknya bukan juga dari daerah Warban, coz itumah temennya si miauu yang namanya Rizky waktu SMA dulu.

     Perjuangan Kak Nisya pun untuk memperbaiki Gaga tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi untuk membangun pendirian seseorang. Itu lebih sulit walau dijalan yang benar!. Alasannya cukup sederhana cihh, masalahnya ada di Gaga sendiri. “Tapiii…aku malu…”, “Tapiii…aku takut disangka so alim”, “Tapi…aku takut dimarahin my ortu”…and seabreg alas an alas an fiktif belaka lainnya.

Sampai saatnya ketika Gaga harus kejar Dead line, mengolah berita, mencari data dari sana sini, bahkan tak jarang dompetnya kebawa tipis alias ikut kurus gara – gara membiayai kegiatannya itu. Tapi, mengeluh menjadi hal yang sangat pantang baginya sekarang. Walau mata jadi “minus” karena harus berkutat dengan bacaan atau tulisan, walau muka pucat kurang tidur, eh kurang darah.., dia tetep “ENJOY TENAN”!!.

     Di meja belajar, Gaga sering ketiduran, puluhan artikel bersebaran di kamarnya. Namun ia sibuk dengan bunga tidurnya. Pernah suatu malam dia tersentak kaget terbangun dari mimpinya itu, badannya gemetar penuh keringat.

“ASTAGFIRULLAHHH….!”, ucapnya tergesa-gesa.

“Aneh, gila, nggak mungkin!! Aku nggak percaya!”

Ini soal mimpi Gaga.. mimpinya yang membuat merasa aneh dan tak percaya. And thennn dia cerita dung sama Kak Nisya!!!…

“Subhanallahhh..ukhti..!” Kak Nisya mah emeng suke gitu…gampangan takjub. Sementara Gaga sendiri bengong melihat sikap Kak Nisya yang mendengar cerita mimpi itu. Sungguh ironis, bahkan terasa maksa abis bagi Gaga untuk mengalami mimpi itu. Dalam mimpinya ia mendapat penghargaan atas kerja kerasnya sebagai wartawan keagamaan, puluhan hadiah numpuk. Dan tak lain dan tak bukan hadiah-hadiah itu dari guru-gurunya beserta teman-temannya. Tapi itu biasa…yang bikin Gaga gemetar itu dia neriama Gelang dari “Rosulullah”!, namun orang yang memberikannya bukan beliau, tapi “utusannya”. Makanya Gaga bilang ini mimpi teraneh dan nggak mau mempercayai. Gelang itu berwarna cokelat tua dan elastis, dipasang ditangan kiri Gaga, namun agak longgar.

“Ukhti…, walau kamu nggak percaya, coba ambil saja hikmahnya, ,memang, mimpi itu bisa datang dari Allah, jiwa kita sendiri, bahkan dari syetan, tapi kamu ambil baiknya aja ya?”

“Tapi……..”
”Sudah, bukannya Kak Nisa sok tahu, ini Cuma pemikiran kakak. Gelang itu kan perhiasan, Rosulullah mungkin bangga atas jalan ukhti memperjuangkan agama, sehingga memberikan hadian gelang”

“Tapi…apa hubungannya ? aku ngggak merasa, apalagi memperjuangkan agama!”

     Gaga tak bisa menyangkal, nerima saja pemikiran kak Nisa dan mencoba mengambil hal positif dari mimpinya yang terkesan maksa itu.

“Gelang itu perhiasan bagi wanita, dan kamu harus berusaha lebih cantik dengan perhiasan itu”.

“Maksud Kak Nisa apa?”

“Masa kita adalah masa pencarian jati diri, mantapkan langkah kita, akan berjalan kemanakah alur hidup ini? Kakak Cuma ngasih saran agar hati-hati dalam bergaul, karena pergaulan manusia itu seperti baju. Saat baju bercampur dengan minyak wangi hasilnya akan wangi pula, tapi kalau bercampur dengan kotoran??, kamu bisa mengambil kesimpulan sendiri. So, ukhti mau kan lebih cantik??”

“Ya, saya tau Kak, cantik yang dimaksud kakak seperti apa.”

“Ok!, buka dong ini”. Kak Nisa menyerahkan sebuah KADO!.

“Lho. Kok…apa ini?”

“Buka saja..”

“Haaaa???!!!”, surprise! Gaga mendapat sebuah gamis berwarna cokelat tua.

“Indah banget..”, puji Gaga

“Kamu mau kan?”

“Tapi…kak,aku…”, Gaga kembali terlihat bingung.

“Apa ukhti?, tapi, tapi, kakak nggak suka kamu bilang gitu, Jangan KEBANYAKAN TAPI!”

“Tapi…, tapiii,,….Gaga mau buangets pake Gamis…!!, makasih ya kak Nisa..”

“Haa..haaa..haa…”. Gaga dan Kak Nisa tertawa-tawa dan mereka berpelukkan.

“Kak?”

“Apa?”

“Tapi bukan gelang cokelat ya? Dapetnya malah gamis cokelat!!!hehe..hehe…”

by.T Adeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: